Senin, 21 Agustus 2017
Selasa, 26 April 2016
HARI BUMI 2016
ANTARA AKU, KAU dan SUNGAI TAMIANG
By ; Joe Strada
Judul diatas adalah tema yang kita angkat dalam rangkaian acara Peringatan Hari Bumi 2016 di Aceh Tamiang. Fokus kegiatan pada Peringatan Hari Bumi kali ini adalah Pameran Fhoto dan Diskusi tentang Sungai Tamiang Acara ini sebagai bentuk dedikasi terhadap sungai Tamiang oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) RANGGA. Kelompok ini beranggotakan masyarakat yang bertempat tinggal dan menggantungkan sebahagian hidupnya di sungai tamiang. Pola pikir dan kebiasaan orang-orang sekitar menjadi pekerjaan rumah yang sangat memakan energi. Membuang sampah, menebar racun & menyetrum disungai kerap dilakukan tanpa rasa bersalah. Bagaimana mendapat hasil banyak hari ini tanpa memikirkan bagaimana esok hari merupakan hal lumrah. Dan disayangkan sekali ternyata pelakunya bukan orang sekitar sungai, melainkan orang-orang dari kampung- kampung tetangga. Sebagai contoh, sering pada malam hari pasti kita melihat orang berhenti di pinggir jalan tengah jemb atan lalu mencampakkan bungkusan berupa sampah. Sampah ini sengaja dikumpulkan dulu setelah banyak kemudian dibawa dan dibuang kesungai. Belum lagi Pajak (pasar) pagi Kota Kualasimpang yang posisinya membelakangi sungai tamiang, Demikian juga para pelaku peracun dan pnyetrum ikan /udang di sungai, mereka adalah orang-orang kampung tetangga yang notabene saling mengenal dengan warga bantaran sungai tamiang di Kota Kualasimpang ini,
Imbas dari beberapa aktifitas tersebut berhasil membuat kondisi bantaran sungai tamiang terlihat kumuh, ditambah lagi warga bantaran sungai yang biasa mencari tambahan penghasilan dengan menjaring/memancing ; ikan/udang ..., harus menerima kenyataan berupa hasil yang menurun. Kini mereka merasa marah dan resah dengan keadaan ini, langkah-langkah penyelamatan pun segera ditempuh. Kampanye tentang pentingnya menjaga kebersihan terutama disungai tamiang menjadi isu utama yang dianggap pantas diperjuangkan. Peringatan Hari Bumi yang dilaksanakan pada hari Senin/Selasa 25/26 april 2016 kemarin adalah rangkaian kedua setelah sebelumnya KSM RANGGA menggelar GEBYAR SEDEKAH ALAM tanggal 29 februari 2016 ditempat yang sama. Hadir dalam acara tersebut Ir. Razuardi Ibrahim (Sekda Kab. Aceh Tamiang), Distamben, BLHK, Dishutbun, SAR, TAGANA, Kepolisian, Camat dan Pemerintahan Kampung Kota Kualasimpang. Kedepan kegiatan kampanye seperti ini akan dilaksanakan terus menerus sehingga semakin banyak orang menyuarakan dan menyadari betapa pentingnya lingkungan dan air bersih. Dalam setiap diskusi dan pelaksanaan kegiatan KSM RANGGA selalu \berjaringan dengan lembaga lokal maupun nasional. LSM PESSAT dan Yayasan SHEEP Indonesia adalah dua lembaga lokal dan nasional yang sejak awal melakukan pendampingan warga di bantaran sungai tamiang khususnya wilayah kota Kualasimpang Aceh tamiang.
Minggu, 27 Maret 2016
Oleh : Joe Strada (LSM PESSAT)
27 maret 2016
Daerah Aliran Sungai
di Aceh Tamiang semakin mengalami kerusakan
lingkungan dari tahun ke tahun. Kerusakan lingkungan pada Daerah Aliran Sungai
(DAS) meliputi kerusakan pada aspek biofisik ataupun kualitas air.
Daerah Aliran Sungai
(DAS) Tamiang Selain mempunyai fungsi hidrologis, sungai juga mempunyai peran
dalam menjaga keanekaragaman
hayati, nilai ekonomi, budaya, transportasi, pariwisata dan lainnya.
Saat ini sebagian
Daerah Aliran Sungai di Aceh Tamiang mengalami kerusakan sebagai akibat dari
perubahan tata guna lahan, pertambahan jumlah penduduk serta kurangnya
kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan DAS. Gejala Kerusakan
lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) dapat dilihat dari penyusutan luas hutan dan kerusakan lahan terutama kawasan lindung di
sekitar Daerah Aliran Sungai.
Dampak Kerusakan DAS.
Kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) yang terjadi mengakibatkan kondisi
kuantitas (debit) air sungai menjadi fluktuatif antara musim penghujan dan
kemarau. Selain itu juga penurunan cadangan air serta tingginya laju sendimentasi
dan erosi. Dampak yang dirasakan kemudian adalah terjadinya banjir di musim
penghujan dan kekeringan di musim kemarau.
Kerusakan Daerah
Aliran Sungai (DAS) pun mengakibatkan menurunnya kualitas air sungai yang
mengalami pencemaran yang diakibatkan oleh erosi dari lahan kritis, limbah
rumah tangga, limbah industri, limbah pertanian (perkebunan) dan limbah
pertambangan. Menurut hasil pengamatan saya pencemaran air sungai di Aceh tamiang
juga telah menjadi masalah tersendiri yang sangat serius.
Saat ini beberapa Daerah Aliran Sungai
di Indonesia mendapatkan perhatian serius oleh pemerintah dalam upaya pemulihan
kualitas air. Sungai-sungai itu terdiri atas 10 sungai besar lintas provinsi,
yakni:
§ Sungai
Ciliwung; Provinsi Jawa Barat dan DKI Jakarta dengan DAS seluas 97.151 ha.
§ Sungai
Cisadane; Provinsi Jawa Barat dan Banten dengan DAS seluas 151.283 ha
§ Sungai
Citanduy; Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan DAS seluas 69.554 ha
§ Sungai
Bengawan Solo; Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur dengan DAS seluas 1.779.070
ha.
§ Sungai
Progo; Provinsi Jawa Tengah dan DI Yogyakarta dengan DAS seluas 18.097 ha
§ Sungai
Kampar; Provinsi Sumatera Barat dan Riau dengan DAS seluas 2.516.882 ha
§ Sungai
Batanghari; Provinsi Sumatera Barat dan Jambi dengan DAS seluas 4.426.004 ha
§ Sungai
Musi; Provinsi Bengkulu dan Sumatera Selatan dengan DAS seluas 5.812.303 ha
§ Sungai
Barito; Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan dengan DAS seluas
6.396.011 ha.
§ Sungai
Mamasa (Saddang); Provinsi Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan dengan DAS
seluas 846.898 ha.
Selain pada 10 sungai lintas provinsi
juga pada 3 sungai strategis nasional, yaitu:
§ Sungai
Citarum; Provinsi Jawa Barat dengan DAS seluas 562.958 ha.
§ Sungai
Siak; Provinsi Riau dengan DAS seluas 1.061.577 ha.
§ Sungai
Brantas; Provinsi Jawa Timur dengan Daerah Aliran Sungai seluas 1.553.235 ha.
Pertanyaannya ; “kapan kita mulai
melakukan gerakan-gerakan yang sama seperti 10 (sepuluh) Daerah Aliran Sungai
(DAS) yang disebut diatas?”.
“Ayo bersama melakukan tindakan nyata,
mendorong para pengambil kebijakan agar berperan aktif sehingga terbangun
gerakan kebersamaan dalam rangka menjaga pelestarian sumberdaya air di Bumi
muda Sedia ini”
Semoga kedepannya, Daerah Aliran Sungai Taminag
yang kita punyai semakin berkurang kerusakannya dan membaik kondisinya sehingga
tidak lagi mendatangkan bencana buat kita semua. Justru sebaliknya,
sungaaan buat seluruh generasi akan datang.i-sungai tersebut membawa manfaat dan kesejahter
sumber ; kompasiana, national geographic, mongabay
Rabu, 23 Maret 2016
Flying Bike
Kampong Rantau Bintang, Kec. Bandar Pusaka, Kab. Aceh Tamiang
.... Apakah Ceria ini pasti berlangsung selamanya ...???
#savetamiangriver
ANTARA AKU, KAU dan SUNGAI TAMIANG
ANTARA AKU, KAU dan SUNGAI TAMIANG
Oleh : Joe Strada #LSM PESSAT
Sungai Tamiang Kualasimpang Aceh Tamiang
Ulasan singkat
Manusia dalam kehidupannya memiliki 7 kebutuhan dasar yang akan dipenuhi.
Menurut Maslo,
kebutuhan yang paling dasar ialah kebutuhan fisiologis. Ada 3 hal yang harus
dipenuhi dalam kebutuhan fisiologis yaitu kebutuhan sandang, pangan dan papan.Salah satu komponen yang termasuk dalam 3 kebutuhan tersebut
ialah kebutuhan akan air. Air diperlukan dalam berbagai hal, seperti irigasi,
mandi, minum, mencuci dan memasak. Manusia mendapatkan air dari berbagai sumber
salah satunya ialah melalui sungai. Air sungai banyak digunakan dalam kehidupan
masyarakat, baik yang berada di kota maupun masyarakat di pedesaan.
Pentingnya sungai bagi kehidupan sehari-hari sayangnya tidak membuat
manusia turut menjaga kelestarian sungai. Sampah-sampah dibuang ke sungai
dengan seenaknya tanpa memperdulikan kehidupan biota yang ada di dalamnya.
Selain sampah, manusia juga membuang limbah ke dalam sungai. Limbah tersebut
biasanya berasal dari pabrik yang berada dekat dengan sungai. Dengan masuknya
sampah dan limbah ke dalam sungai, kualitas air di sungai pun menjadi buruk dan
tak layak konsumsi. Kerugian pun tentunya dirasakan oleh masyarakat yang
tinggal di dekat sungai. Merekalah yang dengan langsung memanfaatkan sungai
dalam aktivitas kehidupan sehari-hari.
Sungai Tamiang Kualasimpang Aceh Tamiang
Pencemaran Sungai
Pencemaran air berarti masuknya material lain ke dalam air sehingga
mengurangi kualitas air dalam penggunaannya. Pencemaran air ini meliputi juga
pencemaran sungai. Padahal sungai merupakan suatu komponen penting yang
berperan dalam siklus hidrologi
Penyebab pencemaran sungai dapat berasal dari :
1. “Tingginya kandungan
sedimen yang berasal dari erosi, kegiatan pertanian, penambangan, konstruksi,
pembukaan lahan dan aktivitas lainnya
2. Limbah organik dari
manusia, hewan dan tanaman
3. Kecepatan pertambahan
senyawa kimia yang berasal dari aktivitas industri yang membuang limbahnya ke
perairan” (Hendrawan 2005:13-14).
Pencemaran sungai secara lebih lanjut dapat menyebabkan blooming algae akibat kelebihan
nutrien fosfat yang ada di dalam sungai (Round 1981:307).Blooming algae membuat kadar oksigen pada air menjadi rendah bahkan
mencapai nol. Apabila terjadi blooming algae, maka kehidupan biota
di dalam sungai akan berkurang sehingga dapat menghilangkan suatu
ekosistem.Permasalahan lainnya, Cyanobakteria merupakan alga yang mengeluarkan
toksin yang juga beresiko bagi kesehatan manusia dan hewan(Round 1981:307).
Oleh karena itu, apabila terjadi blooming
algaemaka sungai tidak dapat digunakan secara total.
Kondisi Kesehatan Warga Pengguna Air Sungai
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai tentunya memanfaatkan sungai
dalam kehidupan sehari-hari mereka, baik mencuci, memasak, mandi maupun minum.
Ketika mereka menggunakan air sungai yang telah tercemar, tentu akan ada efek
samping yang dirasakan. Efek samping utama yang diterima oleh masyarakat ialah
penyakit. Penyakit yang terjadi umumnya ialah penyakit diare. Diare dapat
terjadi akibat protozoa maupun bakteri. Umumnya diare disebabkan oleh bakteri
dalam air. Air yang kotor digunakan untuk mencuci sehingga bakteri tertinggal
di benda-benda yang kemudian digunakan oleh warga.
Selain diare, penyakit lain yang dapat menyerang warga ialah cacingan.
Cacingan terjadi akibat infeksi dari telur cacing yang masuk ke tubuh manusia.
Penyakit ini ditandai dengan perut buncit namun kondisi tubuh yang kurus.
Penyakit kulit juga merupakan penyakit yang umum diderita masyarakat pengguna
air tercemar. Biasanya gatal-gatal ialah ciri utama yang terjadi sebelum
penyakit kulit menjadi lebih parah. Hal ini disebabkan karena adanya kandungan
mineral yang beracun untuk kulit.
Tindakan Penanggulangan untuk Mengatasi Dampak yang Terjadi
Kerusakan sungai yang semakin parah tentunya meresahkan masyarakat sekitar,
terutama bagi mereka yang secara langsung memanfaatkan sungai. Pemerintah
tentunya dapat melakukan konservasi sumber daya air, sebagaimana yang tertulis
pada Undang-Undang Sumber Daya Air. Dalam Undang-Undang Sumber Daya Air,
dijelaskan bahwa “konservasi sumber daya air salah satunya dapat dilakukan
melalui kegiatan pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air yang
dilakukan dengan cara mengelola air sungai yang baik dan benar” (Undang-Undang Sumber
Daya Air 2004). Pengendalian pencemaran tersebut dilakukan dengan mencegah
masuknya benda-benda yang dapat mencemarkan sumber air terutama sungai. Tujuan
dari pengelolaan dan pengendalian pencemaran air ialah mempertahankan serta
mengembalikan kualitas air sehingga menjadi lebih baik (Undang-Undang Sumber
Daya Air 2004).
Beberapa cara lain juga dilakukan untuk mencegah masuknya benda-benda yang
dapat mencemarkan sungai. Untuk pabrik-pabrik besar, biasanya digunakan kolam
indikator untuk mengetes apakah limbah yang akan dibuang ke sungai mengandung
zat kimia berbahaya atau tidak. Di dalam kolam indikator tersebut dimasukkan
ikan mas, yang nantinya akan bereaksi terhadap air yang tercemar atau tidak.
Ikan mas merupakan ikan yang cukup peka dan mudah stress bila berada di
lingkungan yang tidak baik. Dengan adanya ikan mas, dapat diketahui dengan
mudah apakah limbah yang dibuang berbahaya atau tidak.
Pemerintah juga diharapkan melakukan kegiatan
pembersihan sungai dari sampah secara rutin. Sampah yang mengendap di sungai
tentunya akan mengurangi kualitas air sungai. Segala upaya dapat saja dilakukan
oleh pemerintah, namun cara mencegah pencemaran sungai yang paling utama ialah
dari dalam diri sendiri. Seseorang seyogyanya sadar untuk tidak mencemari
sungai, terutama dengan sampah. Sebagai warga masyarakat, kita harus sadar akan
lingkungan. Kita harus membiasakan diri untuk tidak membuang sampah
sembarangan, terutama membuang sampah ke sungai.
Masyarakat yang terlanjur terkena imbas dari pencemaran air sungai tentunya
tidak boleh dibiarkan begitu saja. Mereka yang sudah terjangkit penyakit harus
segera diperiksakan ke dokter. Banyak warga yang biasanya menganggap remeh
kondisi kesehatan mereka yang jelas sudah sakit. Bila dibiarkan lebih lanjut,
tentunya sakit yang diderita akan semakin parah. Masyarakat juga harus dihimbau
untuk tidak lagi menggunakan air yang sudah tercemar. Untuk daerah-daerah yang
rawan untuk terkena pencemaran air, sebaiknya warga diberikan informasi untuk
dapat mengidentifikasi air yang tercemar secara sederhana. Cara tersebut
diharapkan dapat mengurangi konsumsi air tercemar lebih banyak lagi.
Selasa, 22 Maret 2016
SEDEKAH ALAM
Aceh tamiang, senin 29/02/2016
Mewujudkan rasa terimakasih atas apa yang telah diberikan alam untuk kemaslahatan umat manusia dalam bentuk sedeqaH alam. Kegiatan ini berangkat dari keresahan warga bantaran sungai tamiang di kampung kota Kualasimpang Aceh Tamiang. Apakah bentuk keresahan yang mereka rasakan ?
Mereka adalah masyarakat yang masih menggantungkan hidup dan kehidupannya di sungai. Memang bukan mata pencaharian utama, tetapi sangat membantu menutupi kebutuhan sehari-hari. Namun beberapa tahun belakangan mereka mulai sangat terganggu dengan ulah orang-orang yang meracun dan membuang sampah ke sungai.
Berbagai cara sudah mereka coba lakukan, dari mulai menangkap, memarahi,bahkan tidak jarang mereka harus adu otot dengan pelaku. Ternyata cara-cara itu tidak membuat pelaku yang meracun disungai menjadi berkurang, bahkan terkadang menantang seakan tidak takut dilaporkan. Kemudian muncullah ide untuk menggunakan cara-cara yang lebih elegan namun dirasa mampu menyentuh hati orang-orang keras hati tersebut. Muncullah ide untuk membuat SEDEKAH ALAM dengan dasar bahwa ; "sudah banyak sekali yang kita ambil dari alam ini, tetapi pernahkah kita betrpikir untuk berterimakasih kepada alam?"
Senin, 29 februari 2016 menjadi hari yang sangat bersejarah di Kampung Kota Kualasimpang, Kecamatan Kualasimpang, Kabupaten Aceh Tamiang. GEBYAR SEDEKAH ALAM berlangsung sangat sederhana, sekelompok warga yang menamakan diri mereka ; "RANGGA" mengumpulkan uang dan bekerjasama bahu membahu. Ter-realisasilah beberapa kegiatan antara lain ;
1. Tanam tunas bambu,
2. Tebar benih ikan,
3. Diskusi kecil tentang kondisi sungai Tamiang,
Dihadiri oleh Kepala Kantor BLHK Aceh Tamiang, Jajaran Kepolisian, TNI,Tokoh Masyarakat, Pers dan LSM acara ini berjalan lancar. Acara ditutup dengan makan siang bersama dan Do'a oleh Imam.
Ka. BLHK Aceh Tamiang ; Samsul Rizal melepas benih ikan di sungai tamiang
Kel. RANGGA bersama Ka. BLHK, jajaran Kepolisian dan teman-teman Pers Aceh Tamiang
Unit usaha Kafe Apung Salah satu warga Pelabuhan Kualasimpang
Makan bersama dengan seluruh tamu undangan yang hadir di acara GEBYAR SEDEKAH ALAM
Rabu, 27 Januari 2016
KETEMU BUAYA DI SUNGAI TAMIANG
KETEMU BUAYA DI SUNGAI TAMIANG
Senin, 25 Januari 2016
Saat itu tepat pukul 13:30 wib, kami dari LSM PESSAT bersama teman-teman dari YAMA (Yayasan Anak Merdeka) akan melakukan perjalanan menuju Desa Tampor Paloh, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur. Kami menggunakan transportasi jalur sungai, yaitu perahu motor (boat) yang biasa digunakan masyarakat disana. Untuk sampai ke desa tersebut kami harus menempuh perjalanan 6 sampai 7 jam dari pelabuhan Kualasimpang. Perjalanan ini adalah bagian dari aktifitas LSM PESSAT dalam proses pen-dokumentasian sekolah mandiri SMP MERDEKA di desa Tampor Paloh berikut Cagar budaya & Sumberdaya Alam diwilayah DAS Tamiang.
Seperti biasa kami harus menunggu jumlah penumpang cukup dan barang-barang selesai di naikkan kedalam perahu motor (boat). Setelah itu kita semua naik, mesin dihidupkan dan memulai perjalanan menelusuri sungai Tamiang. Pemandangan sungguh indah meski panas terasa sedikit menyengat, aku keluarkan kamera dan mulai melirik kekiri kekanan melihat apa saja yang menarik untuk di photo. Tiba-tiba di tepi tikungan sungai kira-kira 500m sebelum jembatan Lubuk Sidup - Sekerak, mataku tertuju pada sebuah benda seperti pelepah sawit tanpa daun. Namun aku melihat benda itu bergerak-gerak, lama aku perhatikan penuh curiga melihat coraknya yang agak mulai jelas. Sampai posisi sampan motor yang kami tumpangi melintas tikungan sungai tersebut, tanpa komando aku langsung bidikan kamera dan berhasil merekam gambar benda tersebut yang ternyata benar-benar BUAYA.
Menurut penumpang (bu'; Sawiyah) warga Tampor Paloh ; Buaya tersebut sudah beberapa kali kelihatan ditempat yang sama. Aku hanya termangu sambil melihat-lihat hasil photo tadi, betapa besar buaya tersebut. Mungkin ada teman-teman yang berkompeten berniat melakukan penelitian tentang kehadiran buaya disungai Tamiang ?
Rabu, 20 Januari 2016
General Hospital For European Patients at Koeala Simpang
General Hospital For European Patients at Koeala Simpang

The general hospital for European patients at Koeala Simpang was one of the central hospitals mentioned by van de Velde (Het Ziekenhuis, 1918) and by B.M. van Driel in the Mededeelingen no. 9 of the Pathological Laboaratory at Medan. It was situated in the hospital ressort Langsa. It admitted 13,994 patients in 1929, of whom in that year 107 died (7.65 %).
Koealasimpang was the main town of the subdepartment Temijang, department Eastcoast of Atjeh, Government Atjeh and Dependencies.(Gonggryp 1934, 661).
Translate :
Rumah sakit umum pasien untuk Eropa di Kuala Simpang adalah salah satu rumah sakit pusat Disebutkan oleh van de Velde ( Rumah Sakit , 1918) dan oleh BM van Driel di Mededeelingen ada . 9 dari patologis Laboaratory di Medan . Itu terletak di resor rumah sakit Langsa . Ini Mengaku pasien 13,994 pada tahun 1929 , atau Siapa Ini Tahun itu 107 meninggal ( 7,65 % ) .Aceh dan Dependensi . ( Gong Gryp 1934 , 661 ) .
#sumber : COLONIAL HOSPITALS The rise of a hospital system in the Netherlands Indies
HISTORY OF TAMIANG MONUMENT
HISTORY OF TAMIANG MONUMENT
Oleh : Juli Ardana
Selama kepemimpinan W.J.M. Michielsen sebagai Residen Sumatra Oostkust
bagi Pemerintah Hinda Belanda. Di masanya, selesai ekspedisi Tamiang yang
sangat melelahkan bagi kolonial pada saat itu. Banyak sekali korban yang
berjatuhan antara masyarakat Tamiang hingga kolonial sendiri. Sehingga untuk
mengenang pertempuran itu, Kolonial membangun Monumen Tamiang di Lapangan
Esplanade (Lap. MERDEKA - Medan)
W.J.M. Michielsen
Pada tugu `Tamiang Monument` tercantum daftar nama-nama tentera Belanda yang tewas. Tapi sayang atas permintaan PKI pada tahun 1950, tugu Tamiang Monument di Lapangan Merdeka Medan justru dihancurkan.
Tamiang Monument
Ketika Van Heutsz menjadi Gubernur Militer di Residensi Aceh ditetapkanlah batas Residensi Aceh dengan Afdeling Langkat-Tamiang (Residensi Sumatera Timur) bulan April 1899. Sewaktu tambang minyak di Langkat dieksploitasi pada tahun 1890, kemudian meluas ke wilayah Tamiang, Sultan Langkat merasa berhak memperoleh sebahagian besar hasil minyak itu meskipun diprotes oleh Kejeruan-Kejeruan di Tamiang.
Van Heutsz
Pada 1903, wilayah Afdeling Tamiang dikeluarkan dari Residensi Sumatera Timur dan dimasukkan ke Residensi Aceh. Pemerintah Hindia Belanda lalu membuat perjanjian Pendek (Korte Verklaring) dengan raja-raja di Tamiang secara langsung.
#LSM - PESSAT
Selasa, 19 Januari 2016
MARINELANDINGSDIVISIE TE TAMIANG KOEALASIMPANG 1893
EXPEDISI DIVISI MARINIR BELANDA DI TAMIANG 1893
Oleh ; Juli Ardana (LSM - PESSAT)
Tanggal
16 Februari 1893, Belanda melakukan penyerangan secara besar-besaran dengan
senjata lengkap seperti Senapan dan Meriam ke Tanjung Mulia (Pangkal Timbang )
letaknya tidak jauh dari Seruway. Tentara Belanda terus berdatangan menuju
Bendahara, mereka menggunakan jalur laut. Kemudian mengirimkan pasukan melalui jalur sungai menggunakan perahu karet ke tempat-tempat target sasaran. Penyerangan di lakukan mulai subuh. Dari penyerangan ini Belanda
berhasil menaklukan benteng rakyat yang di pimpin oleh Dt. Tanjung. Tempat
kediaman Raja Bendahara di taklukan oleh Belanda, secara umum Belanda telah
menaklukan Bendahara.
Setelah menguburkan tentara Belanda di Perkuburan Arun
Gajah ( Seruway) atas agresi yg mereka lakukan di Bendahara. Mereka kembali ke
Labuhan melalui Salah Haji. Rakyat memasang ranjau di seluruh alur sungai untuk
mengantisipasi penyerangan Belanda.
Tanggal 29
Maret 1893 Belanda mengirimkan tentaranya dari Medan menuju Seruway yang
terdiri dari 8 Opsir serta 200 Serdadu dengan 2 unit Meriam Gunung. Puluhan
serdadu Angkatan Laut Berbangsa Belanda & Satu divisi pendaratan terdiri
atas 120 Org Serdadu. Ekspedisi ini di pimpin oleh Kolonel A.H.V.D. Pol. Dalam
Perang Kolonial di Tamiang, Perang Lubuk Batil dan Tumpuk Tengoh ini menjadi
sebuah catatan sejarah sebagai salah satu perang terdasyat, karena banyak
memakan korban Jiwa di kedua belah pihak. Di pihak tentara Belanda yang
Gugur,antara lain: Pos Komando seruway Let V/d Schroef, Pasukan AL Let.
Mensert,Let. Zelman & Let. Engelen dan 128 serdadu dengan para Offisieren.
Untuk Mengenang Peperangan ini Belanda Mendirikan Tugu Perlawanan Tamiang,
tepat di depan Stasiun Kereta Api di Medan ( Jantung Kota Medan). Di Pihak
Raja Tamiang Panglima Perang & sebanyak 60 orang Laskar Gugur termasuk,
Panglima Perang Raja Banta Achmad Tewas dalam Peperangan ( Syahid). Beliau di
makamkan ditanah tinggi di kampong hilir sungai Iyu). Setelah melihat kekuatan
dari Pihak Belanda, pada Tahun 1893, Perlawanan Bendahara & Kejuruan Muda
melemah,maka Raja Maan dari Kejuruan Muda menemui Controleur Sieberg di Seruway
melalui T Sulung Laut Sultan Muda Indera Kesuma.
Setelah
benteng terakhir di Lubuk Batil & Tumpuk Tengoh dihancurkan oleh Belanda,
maka takluklah Kerajaan Bendahara di Tamiang pada tanggal 2 April 1893
bertepatan dgn 16 Ramadhan 1315 H. Raja Maan pun dari Kejuruan Muda ikut
menyerah kepada Belanda yang disampaikan oleh Raja Sulung yang sudah duluan
menyerah kepada Belanda.
Mendengar
hal ini, Kerajaan Karang yang dipimpin oleh Raja Ben Raja & Putranya T.Raja
Silang menjadi Murka. Mereka pun mengadakan musyawarah di Meunasah Alur Bemban
yang juga dihadiri oleh Panglima T.Mamat dari Aceh. Keputusannya sebagai
berikut:
1. Raja Maan harus di Beri Ganjaran.
2. Perang Tamiang Melawan Belanda di
Pimpin Oleh T.Raja Silang.
3. Mulai dari Alur Bemban menyelusuri
kanan mudik Sungai Tamiang di tempatkan benteng – benteng Perlawanan Rakyat di
Bawah Pimpinan Panglima Perang masing – masing.
4. Setiap Kapal Sekoci milik Belanda
Harus di Musnahkan.
Kontroleur
Sieberg dari Seruway mengutus Raja Maan untuk mengadakan perundingan ke
Kerajaan Karang. Raja Maan yang didampingin oleh Dt.Hakim, Dt.Tandil dan Raja
Hitam yg merupakan adik kandung dari Raja Maan sendiri.
Ketika
rombongan ini berada di atas sungai kampung air tenang, Panglima Badal - salah
satu Panglima dari Nyak Mamat dengan rasa dendam yang berkepanjangan
memerintahkan anak buahnya untuk menembakin perahu Raja Maan. Walhasil Raja
Maan, Dt Hakim & Raja Hitam tewas dalam Insiden tersebut.
Atas sikap
yang tidak kesatria dari Panglima Badal, T.Raja Silang merasa sangat kecewa
& meminta Panglima T.Nyak Mamat meninggalkan Tamiang. Atas insiden tersebut
Belanda Tidak Mengakui Lagi Kekuasaan Raja Ben Raja & Raja Silang serta
keluarganya tidak memiliki hak lagi atas Kerajaan Karang.
T.Raja
Silang tidak Peduli terhadap keputusan Belanda tersebut yang tidak mengakui
Kekuasaanya. Ia pun menyerahkan kekuasaannya sebagai kepala pemerintahan kepada
Kejuruan Tandil. Seorang saudagar bangsawan asal Serdang.
Lalu ia
mengundang Raja Nyak Mud dari Tanjung Mancang Ke Paya Awee. Mereka membicarakan
tentang kematian Raja Maan. Mereka pun bersepakat untuk meneruskan perlawanan
terhadap Belanda. Pada saat itu pun Raja Nyak Mud di beri pangkat Raja Muda
Negeri Tamiang Hulu (Kejuruan Muda) yang berpusat di Tanjung Mancang.
meneruskan Pemerintahan Kejuruan Muda dan berdampingan dengan Kaum Pejuang.
Sementara itu di pihak Belanda, Raja Husin diangkat menjadi Mangku Raja
Kejuruan Muda di Seruway.
Perlawanan
terus terjadi, pada tanggal 19 Juli 1893 Tanjung Sementok di serang dan
dibinasakan, Kontrolir Sieberg mengirimkan utusannya kepada Raja Ben Raja untuk
bersedia melakukan perundingan di Seruway. Pada tanggal 12 Agustus 1893 Raja
Ben Raja mengadakan Musyawarah dengan Para Datuk & Panglimanya atas
undangan tersebut. Keputusan dari musyawarah itu bahwa Raja Ben Raja
tidak mau menghadiri perundingan tersebut. Raja Ben Raja pun
memerintahkan panglimanya untuk berjaga-jaga mulai dari Alur Bemban
menyelusuri kanan mudik Sungai Tamiang hingga Air Tenang dan memerintahkan
menembak setiap sekoci Belanda yang melewati daerah tersebut.
Pada tgl 23
Agustus 1893 Raja Silang mengadakan musyawarah di alur bemban bersama Panglima
Cut mamat dari Perlak yang mana keputusan adalah tetap meneruskan perlawanan
dan menghukum Raja Maan yang telah menyerah ke Seruway.
Tgl 27
Agustus 1893 Kontrolir Sieberg mengutus seseorang ke Air Tenang untuk menemui
Raja Ben Radja & Raja Silang. Pihak Belanda mengerahkan segala kekuatan
untuk dapat membendung perlawanan T.Raja Silang, tetapi selalu gagal.
Penyerangan dan patroli setiap hari di lakukan Oleh Belanda.
Pada tanggal
23 September 1893 dengan kekuatan yang cukup besar, Militer Belanda Menyerang
benteng pertahanan Raja Silang di Paya Kelubi. Dalam insiden ini gugurlah
mertua Raja Silang beserta laskar-laskar Lainnya.
Pada Tanggal
13 Oktober 1893, Raja Silang mengutus Panglima Perak menemui Raja Nyak Mud di
Tanjung Mancang. Karena telah tersebar kabar kepada Raja Silang bahwasannya
telah terjalin hubungan secara tersembunyi antara Raja Nyak Mud dengan Raja
Husin Mangku Raja Kejuruan Muda di Seruway. Pada saat itu terjadilah perdebatan
yang panjang hingga menewaskan Panglima Perak. Kejadian ini mengakibatkan
putusnya hubungan antara Raja Nyak Mud dengan T.Raja Silang yg telah di
ikrarkan di Paya Awe.
Bulan
November 1893, datanglah bantuan Belanda yang di bawa oleh Raja Husin dan
T.Sulung Laut dari Seruway ke Tanjung Mancang yang menemui Raja Nyak Mud yang
secara kebetulan dalam keadaan terancam dari pihak Pejuang. Raja Umar,
adik dari Raja Silang beserta anak buahnya menyerang Tanjung Mancang, Tetapi
dapat di pukul mundur oleh T.Nyak Mud & Anak Buahnya. Selang beberapa hari
kemudian, Raja Nyak Mud mengadakan serangan ke Sungai Kanan ke daerah pertahanan
Raja Umar. Raja Umar melarikan diri ke Bukit Panjang. Akibatnya seluruh rumah
penduduk di kampung Sungai Kanan di bakar oleh Pasukan Raja Nyak Mud.
Dalam
pelariannya, Raja Umar tetap melakukan perlawanan. Salah satunya membumi
hanguskan rumah penduduk yang menjadi pengikut Kejuruan Tandil yang telah di
Angkat oleh Belanda Menjadi Raja Karang. Peristiwa Ini merupakan strategi
Politik Adu Domba yang di lakukan Belanda untuk Menaklukan Tamiang.
Pada 9
November 1893 Tengku kejuruan Tandil di tetapkan oleh Residen van Sumatra
Oostkust untuk mengurus Negeri Karang dan mengambil kekuasaan dari Raja Ben
Raja. Dengan kekuatan 400 orang Prajuritnya, hampir setiap hari Raja Ben Raja
bersama Raja Silang terus melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Pada tanggal
6 Desember 1893 Benteng Raja Silang di serang di Bukit Paja, dekat Manyak Payed
. Dalam insiden ini putrinya TENGKU INTAN KEMALA PUTRI tertembak oleh serdadu
Belanda. Sementara itu di pihak Belanda korban mencapai 24 Orang, dan
sebahagian kecil melarikan diri. Pertempuran terus berlangsung, tepatnya pada
tanggal 24 April 1894 dalam satu pertempuran di dekat Paja Awe, satu opsir
& 20 anggotanya tewas sedangkan di pihak Laskar Raja Silang 10 orang jatuh
meninggal dunia.
Dalam
pertempuran tanggal 17 November 1894 di sekitar Paya Kelubi, Raja Ben Raja yang
saat itu sudah sangat tua beserta Raja Umar terpaksa Menyerah & Mereka di
bawa ke tempat kediaman Kontrolir di Seruway. Belanda pun ingin melakukan
perundingan dengan T. Silang.
Tanggal 12
Desember 1894, tibalah di Bukit Mangga, rombongan T.Muda Cik Kejuruan Sungai
Iyu untuk mengadakan pertemuan dengan Raja Silang. Dalam pertemuan ini T.
Muda menjamin T.Silang selama perundingan.
Setibanya di
Seruway, Kontrolir Sieberg meminta supaya T.Raja Silang bersedia bekerja sama
dengan Belanda. Jika ia menerima tawaran tersebut, maka kerajaan Karang akan di
kembalikan kepadanya dan segera membebaskan ayahandanya Raja Ben Radja.
Tengku Raja silang Kedjoeroean
Raja Silang menjawab sambil melirik kepada T.Muda dan berkata: ”KAMI ORANG –ORANG PERJUANGAN ADALAH MERDEKA BAGAI BURUNG – BURUNG DI UDARA, OLEH KARENA ITU TIDAK MUNGKIN BISA KERJA SAMA DGN PEMERINTAHAN TUAN ( BELANDA ).
Pada tanggal
7 Febuari 1895 Belanda kembali menyerang Paya Kelubi dengan Kekuatan yang cukup
besar. Benteng tersebut hanya di pertahankan oleh 20 orang laskar di bawah
pimpinan Datuk Laksamana dan Datuk Pang Jering. Datuk Pang Jering gugur
dalam pertempuran tersebut beserta 15 orang anak buahnya. Datuk Laksamana
mundur dan terus ke Lokop dengan Panglima Tapa dari Gayo. Untuk kesekian
kalinya Raja Silang di Panggil oleh kontrolir Sieberg untuk Berunding. Raja
Silang Menjawab dengan Tak Gentar: PERANG KAMI INI ADALAH PERANG SUCI,
WALAUPUN BAGAIMANA DIPAKSA, DIHATI KAMI TETAP MEMUSUHI PENJAJAH (BELANDA).
Akhirnya,
Raja Silang bersama Ayahandanya dan saudara-saudaranya di Buang ke Bengkalis (
Riau ) dengan dasar keputusan pemerintah Belanda tanggal 12 Oktober 1895 No.02
Dasar art 42.R.R. Dalam pembuangannya Raja Ben Raja pun meninggal dunia.
Meskipun Raja
silang telah di buang, tetapi panglima bawahanya tetap melakukan perlawanan
kepada Belanda. Pada Tanggal 22 Juli 1895 Dt.Panglima Amat di Marlempang
mengadakan perlawanan. Setiap kapal yang lewat mereka serang. Beberapa awak
kapal tersebut mati. Marlempang pun di serang Belanda. Panglima Husin &
Imam tertangkap dan mereka pun menjalani hukuman selama 6 tahun di Batu Bara.
Tanggal 16 & 17 Juni 1896 Panglima Kadhi & Panglima Udjud dengan
kekuatan 60 Orang Anak buahnya,berhasil Membakar Istana Kuta Milik Tengku
Kejuruan Tandil yang letaknya berhadapan dengan benteng Belanda di Kuala
Simpang.
Pada tahun
1897 Laskar Tamiang yang telah bergabung dengan 20 Orang Gayo dan 120 Orang
Aceh di bawah Kendali Panglima Tengku Tapa melakukan perlawanan. Terjadi baku
tembak antara Opsir Belanda dengan Tengku Tapa disaat Belanda hendak menuju
Manirang. Tapi sayang, Pasukan Tengku Tapa kalah, hingga ia harus mundur ke
Batang Ara (Benteng Terakhir Raja silang yang ada di Batu Bedulang di Bawah
Komando Dt Penghulu Rangai dengan Anak Buahnya yang Berasal dari
Serawak).
Untuk
memperkuat Pertahanan Militer Belanda, maka perairan dan Sungai Tamiang di
kawal secara terus menerus oleh sebuah kapal perang Belanda dan dipersenjatai
sangat Lengkap Yang bernama”WILHELMINA”. Sejak akhir tahun 1897, sudah
tidak terdengar lagi serangan-serangan Laskar Tamiang karena kekuatan militer
Belanda telah tersebar di mana-mana, tercatatlah perang tamiang di mulai sejak
27 Januari 1874 – 27 September 1896. Pada tahun 1901 atas permintaan rakyatnya,
Raja Silang di bebaskan dari Tawanan Belanda.
sumber kutipan ; KITLV - Leiden University, tembakaudeli.blogspot.com, lsmpessat.blogspot.com
Langganan:
Postingan (Atom)








